Tampilkan postingan dengan label 8 BAB 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 8 BAB 5. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2020

ZAT ADIKTIF

Zat adiktif adalah zat-zat yang pemakaiannya dapat menimbulkan ketergantungan fisik yang kuat dan psikologis yang panjang (drug dependence). Kelompok zat adiktif adalah narkotika (zat atau obat yang brasal dari tanaman) atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, mengurangi dan menghilangkan rasa sakit dan menimbulkan ketergantungan. Narkotika menurut tujuan penggunaan terbagi menjadi 3 yaitu :
  • Golongan I, narkotika hanya digunakan untuk ilmu pengetahuan dan tidak untuk terapi serta memiliki potensi sangat tinggi untuk megakibatkan sindrom ketergantungan.
  • Golongan II, narkotika untuk pengobatan yang digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan ilmu pengetahuan serta memiliki potensi kuat untuk mengakibatkan sindrom ketergantungan.
  • Golongan III, narkotika untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan tujuan ilmu pengetahuan serta berpotensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan

a) Ganja

Ganja atau mariyuana merupakan zat adiktif narkoba dari golongan kanabinoid. Terbuat dari daun, bunga, biji dan ranting muda tanaman mariyuana (Cannabis sativa) yang sudah kering. Ganja dipakai dalam bentuk rokok lintingan, campuran tembakau dan damar ganja.

Akibat penyalahgunaan ganja yaitu, gembira dan tertawa tanpa sebab, santai dan lemah, berbicara sendiri, pengendalian diri menurun, menguap atau mengantuk tapi susah tidur, mata merah dan tak tahan terhadap cahaya. Tanda-tanda gejala overdosis yaitu, ketakutan, daya pikir menurun, denyut nadi tak teratur, napas tak teratur/tertekan dan gangguan jiwa. Tanda-tanda putus obat yaitu, sukar tidur, hiperaktif dan hilangnya nafsu makan.

b) Opium

Opium merupakan narkotika golongan opoioida dan dikenal dengan sebutan candu, morfin, heroin dan putau. Berasal dari buah Pavaper Sommiverum dan mengandung lebih dari 20 senyawa.

Morfin, sebenarnya digunakan untuk menghilangkan rasa nyeri penderita kanker. Pemakaian dosis yang berlebihan dapat mengakibatkan kematian.

Heroin, merupakan senyawa turunan (sintesis) dari morfin yang dikenal dengan nama putau. Kodein, merupakan senyawa turunan dari morfin namun kemampuan menghilangkan rasa nyerinya lebih kecil dan efek ketergantungannya juga kecil. Kodein biasanya dipakai dalam obat batuk dan penghilang rasa nyeri. Akibat penyalahgunaannya yaitu, rasa sering mengantuk, perasaan gembira berlebihan, berbicara sendiri, cenderung melakukan kerusuhan, merasakan nafas berat dan lemah, pupil mata mengecil, mual, susah buang air besar dan sulit berfikir. Jika overdosis, akan menyebabkan : tertawa tidak wajar, kulit lembab, nafas tersenggal-senggal dan menyebabkan kematian. Tanda-tanda putus obat yaitu, sering menguap, kepala terasa berat, mata besah, hidung berair, nafsu makan hilang, cepat lelah, badan menggigil dan kejang-kejang.

c) Kokain

Kokain berasal dari ekstraksi daun Erythroxylum coca. Zat ini dipakai sebagai anataestik (pembius) dan efek rangsangan jaringan otak bagian sentral. Akibat pemakaian kokain yaitu, suka bicara, gaduh, gelisah, detak jantung bertambah, demam nyeri perut, mual, muntah bahkan kematian.

d) Sedativa dan Hipnotika (penenang)

Beberapa contoh narkotika jenis ini adalah pil KB dan Magadon. Akibat pemakaiannya yaitu, gelisah, mengamuk, mengantuk, malas, daya fikir menurun, bicara dan tindakan lamban. Jika overdosis, akibatnya yaitu, gelisah, kendali diri turun,,berbicara yang tidak jelas, sempoyongan, suka bertengkar, nafas lambat, kesadaran turun, pingsan bahkan kematian. Tanda-tanda putus obat yaitu, gelisah, sukar tidur, gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah naik dan kejang-kejang.

e) Nikotin

Nikotin yang diisap pada rokok tidak semuanya murni, hal ini dapat menyebabkan meningkatnya denyut jantung dan tekanan darah, beresiko terkena kanker paru-paru, kaki rapuh, katarak, gelembung paru-paru melebar (emphysema), jantung koroner, kemandulan dan gangguan kehamilan.

f) Alkohol

Alkohol diperoleh melalui proses fermentasi sejumlah bahan seperti beras ketan, singkong dan anggur. Minuman yang mengandung alkohol biasanya berasal dari fermentasi perasan anggur dan disebut minuma keras, dikelompokkan menjadi golongan :
  • Berkadar alkohol 1-5% (bir)
  • Berkadar alkohol 5-20% (anggur)
  • Berkadar alkohol 20-50% (wishky)

Akibat pemakaiannya yaitu, gembira pengendalian diri turun dan muka kemerahan. Jika overdosis akibatnya yaitu, gelisah, berfikir kacau, kendali turun dan berbicara sendiri. Tanda-tanda putus minum yaitu, gemetar, muntah, sukar tidur, kejang-kejang dan gangguan jiwa.

Sumber: 
http://www.erwinedwar.com/2018/08/zat-aditif-dan-zat-adiktif-materi-ipa_24.html
ZAT ADITIF 

Tuhan telah menganugerahkan nikmat yang berlimpah kepada manusia. Rahmat – Nya tersebar luas di seluruh alam semesta ini. Tuhan telah memberi makanan, minuman, kesehatan jasmani dan rohani sehingga kita mampu melakukan aktivitas sehari – hari. Tuhan memerintahkan kita untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang sehat dan tidak bertentangan dengan aturan agama, agar kita terhindar dari berbagai penyakit. Makanan yang baik dapat ditinjau dari cara mendapatkannya, kandungan gizi dan dampaknya terhadap tubuh. Makanan dan minuman yang diperoleh dari cara yang salah, nantinya juga akan berdampak buruk bagi tubuh kita. Begitu juga makanan dan minuman yang mengandung zat berbahaya, misalnya zat tambahan seperti pewarna, perasa, pemanis buatan tertentu bila dimakan secara berlebihan dapat berdampak buruk pada tubuh kita.
Ketika memilih makanan, seseorang akan mudah tertarik karena rasanya yang enak, warna yang menarik, aroma yang meggugah selera atau kemasannya yang menawan. Agar memenuhi tujuan tersebut, pembuat makanan menambahkan zat – zat tertentu. Zat – zat tersebut disebut Zat Aditif. Penambahan zat – zat tertentu kedalam makanan ada yang menguntungkan, tetapi ada juga yang merugikan atau membahayakan. Oleh sebab itu, ketika memilih makanan dan minuman, harus memperhatikan zat tambahan yang terkandung didalamnya.
Selain zat pewarna, pemanis dan penyedap khususnya dalam makanan dan minuman, ada pula zat – zat dalam makanan dan minuman yang harus dihindari, misalnya Alkohol. Zat – zat yang dapat menyebabkan orang menjadi ketagihan disebut zat Adiktif.
A.    Zat Aditif. 
Zat Aditif merupakan bahan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam makanan atau minuman dalam jumlah kecil saat pembuatan makanan. Penambahan zat aditif bertujuan untukmemperbaiki penampilan, cita rasa, tekstur, aroma dan untuk memperpanjang daya simpan. Selain itu, Penambahan zat aditif juga dapat meningkatkan nilai gizi makanan dan minuman seperti penambahan protein, mineral dan vitamin.
Berdasarkan fungsinya, zat Aditif pada makanan dan minuman dapat dikelompokkan menjadi pewarna, pemanis, pengawet, penyedap, pemberi aroma, pengental dan pengemulsi. Berdasarkan asalnya, zat aditif pada makanan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu Zat Aditif Alami dan Zat aditif buatan.
Zat Aditif Alami adalah zat aditif yang bahan bakunya berasal dari makhluk hidup, misalnya zat pewarna dari tumbuhan, penyedap dari daging hewan, zat pengental dari alga, dan sebagainya. Zat – zat alami ini pada umumnya tidak menimbulkan efek samping yang membahayakan kesehatan manusia. Sebaliknya Zat Aditif Buatan bila digunakan melebihi jumlah yang diperbolehkan dapat membahayakan kesehatan. Zat Aditif buatan diperoleh melalui proses reaksi kimia yang bahan baku pembuatannya berasal dari bahan – bahan kimia. misalnya bahan pengawet dari asam benzoate, pemanis buatan dari sakarin, pewarna dari tartrazine dan lainnya. Zat aditif buatan harus digunakan sesuai dengan jumlah yang diperbolehkan dan sesuai fungsinya. Penyalahgunaan pewarna buatan seperti bahan pewarna tekstil yang digunakan sebagai pewarna makanan sangat berbahaya untuk kesehatan.
1.      Pewarna.
Pewarna adalah bahan yang ditambahkan pada makanan atau minuman dengan tujuan untuk memperbaiki atau memberi warna pada makanan atau minuman agar menarik.
Secara alami masyarakat dapat memperoleh warna hijau dari suji dan pandan atau warna merah dari stroberi.
Pada saat ini masyarakat dapat menggunakan pewarna buatan yang mudah dibeli dipasaran. Pewarna alami pada umumnya aman untuk kesehatan, sedangkan bahan pewarna buatan yang pemakaiannya disalahgunakan dapat membahayakan kesehatan.
a.      Pewarna Alami.
Pewarna alami adalah pewarna yang dapat diperoleh dari alam, misalnya dari tumbuhan dan hewan. Banyak bahan – bahan disekitar kita yang dapat dipakai sebagai pewarna alami. Selain memberi warna hijau, daun pandan juga memberi aroma harum pada makanan. Selain daun suji dan daun pandan, stroberi dan buah naga merah juga sering digunakan untuk memberikan warna merah pada makanan.
Pewarna Alami mempunyai keunggulan, yaitu lebih sehat dan tidak menyebabkan efek samping apabila dikonsumsi dibandingkan pewarna buatan. Namun pewarna makanan alami memiliki beberapa kelemahan, yaitu cenderung memberikan rasa dan aroma khas yang tidak diinginkan, warnanya mudah rusak karena pemanasan, warnanya kurang kuat (pucat) dan jenisnya terbatas.
Tabel 5.3 Jenis – Jenis Pewarna Alami
NO
WARNA
BAHAN
1
Ungu
Buah murbei, buah anggur
2
Kuning
Kunyit
3
Oranye
Wortel
4
Hijau
Daun suji, daun pandan
5
Cokelat
Kakao
6
Merah
Buah naga, stroberi
7
Hitam
Arang (tidak dianjurkan).

b.      Pewarna Buatan.
Pewarna Buatan diperoleh melalui proses reaksi (sintesis) kimia menggunakan bahan yang berasal dari zat kimia sintesis. Pewarna pada umumnya mempunyai struktur kimia yang mirip seperti struktur kimia pewarna alami, misalnya apokaroten yang mempunyai warna oranye mirip dengan warna wortel. Beberapa bahan pewarna sintetis dapat menggantikan pewarna alami. Pewarna sintetis ada yang dibuat khusus untuk makanan da nada pula untuk industry tekstil dan cat.
Tabel 5.4 Jenis – Jenis Pewarna Buatan yang Dapat Digunakan dalam Makanan atau Minuman.
NO
WARNA
NAMA BAHAN KIMIA
1
Biru
Brilliant Blue FCF
2
Kuning
Tartrazine
3
Oranye
Sumset Yellow FCF
4
Hijau
Fast Green FCF
5
Merah
Allura Red AC

Saat ini, sebagian besar orang lebih senang menggunakan pewarna buatan untuk membuat aneka makanan dan minuman yang berwarna. Bahan pewarna buatan dipilih karena memiliki beberapa keunggulan disbanding pewarna alami, yaitu harganya murah, praktis dalam penggunaan, warnanya lebih kuat, jenisnya lebih banyak dan warnanya tidak rusak karena pemanasan. Penggunaan bahan pewarna buatan untuk makanan dan minuman harus melalui pengujian yang ketat untuk kesehatan konsumen. Pewarna yang telah melalui pengujian keamanan dan yang diizinkan pemakaiannya untuk makanan dan minuman dinamakan Permitted colour atau certified colour.
Pewarna buatan sudah digunakan secara luas oleh masyarakat sebagai bahan pewarna dalam peoduk makanan dan minuman. Namun, sebagian masyarakat masih menggunakan bahan pewarna buatan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Contoh penggunaan pewarna buatan yang tidak sesuai peruntukannya adalah penggunaan pewarna tekstil untuk makanan yang dapat membahayakan kesehatan konsumen. Pewarna tekstil dan pewarna cat tidak boleh digunakan sebagai pewarna makanan dan minuman karena pewarna tekstil dan cat biasanya mengandung logam – logam berat, seperti antimony (Sb), arsenic (As), barium (Ba), cadmium (Cd), Kromium (Cr), raksa (Pb), mercuri (Hg), dan selenium (Se) yang bersifat racun bagi tubuh.
Tabel 5.5. Jenis – Jenis Pewarna Buatan yang Dilarang Digunakan dalam Makanan atau Minuman.
NO
WARNA
NAMA BAHAN KIMIA
1
Biru
Indanthrene Blue RS
2
Kuning
Fast Yellow AB, Oil Yellow OB, Auramine, Metanil Yellow
3
Oranye
Orange RN, Orange GGN, Chrysodine
4
Hijau
Guinea Green B
5
Cokelat
Chocolate brown FB
6
Merah
Fast Red E, Ponceau Sx, Rhodamine B
7
Hitam
Black 7984

2.      Pemanis.
Pemanis merupakan bahan yang ditambahkan pada makanan atau minuman sehingga dapat menyebabkan rasa manis pada makanan atau minuman. Bahan pemanis ada dua jenis, yaitu pemanis alami dan pemanis buatan.
a.      Pemanis Alami.
Pemanis Alami yang umum digunakan untuk membuat rasa manis pada makanan dan minuman adalah gula pasir (sukrosa), gula kelapa, gula aren, gula lontar dan gula bit. Gula tersebut digunakan sebagai pemanis pada makanan dan minuman sesuai dengan keperluan. Penggunaan pemanis alami juga perlu mengikuti takaran tertentu.
b.      Pemanis Buatan.
Pemanis buatan mempunyai rasa manis hampir sama atau lebih manis dibandingkan dengan pemanis alami. Pemanis buatan dibuat melalui reaksi kimia tertentu sehingga dapat dihasilkan senyawa yang mempunyai rasa manis. Pemanis buatan dibuat dengan tujuan sebagai pengganti gula alami. Beberapa contoh pemanis buatan adalah siklamat, aspartame, kalium asesulfan dan sakarin. Pemanis – pemanis ini mempunyai tingkat kemanisan lebih besar dibandingkan dengan gula pasir. Pemanis buatan dapat digunakan untuk menggantikan pemanis alami bagi orang – orang yang tidak diperbolehkan mengonsumsi pemanis alami, seperti penderita kencing manis (diabetes mellitus). Selain itu, pemanis buatan tidak menghasilkan kalori dalam tubuh, sehingga sering digunakan oleh orang yang diet.
Tabel 5.6. Perbandingan Tingkat Kemanisan Pemanis Buatan
NO
NAMA PEMANIS
TINGKAT KEMANISAN DIBANDINGKAN GULA PASIR (SUKROSA)
ASUPAN MAKSIMAL / KG BERAT BADAN
1
Gula pasir
1
30 – 60 mg
2
Siklamat
30 – 50
11 mg
3
Aspartame
160 – 200
40 – 50 mg
4
Kalium asesulfam
200
15 mg
5
Sakarin
200 - 500
5 mg

Penggunaan pemanis buatan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan jumlah yang diperbolehkan dapat membahayakan kesehatan. Oleh sebab itu, bila menggunakan pemanis buatan periksalah aturan pemakaiannya.

3.      Pengawet.
Pengawet adalah zat aditif yang ditambahkan pada makanan atau minuman yang berfungsi untuk menghambat kerusakan makanan atau minuman. Kerusakan makanan dapat disebabkan oleh adanya mikroorganisme yang tumbuh pada makanan dan minuman. Bahan pengawet mencegah tumbuhnya mikroorganisme sehingga reaksi kimia yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut dapat dicegah, misalnya fermentasi pada makanan dan minuman tersebut. reaksi – reaksi kimia lain juga dapat dicegah oleh adanya pengawet antara lain pengasaman, oksidasi, pencokelatan (browning) dan reaksi enzimatis lainnya. Contoh bahan pengawet dan penggunaannya dapat dilihat pada Tabel 5.7.
Tabel 5.7. Bahan Pengawet dan Penggunaannya.
NO
NAMA BAHAN PENGAWET
PENGGUNAAN
1
Asam benzoate, natrium benzoate dan kalium benzoate
Mengawetkan makanan dan minuman ringan, kecap dan saus
2
Asam askorbat
Mengawetkan daging olahan, kaldu dan buah dalam kaleng
3
Natrium nitrat (NaNO)
Mengawetkan daging olahan dan keju
4
Asam propionate
Mengawetkan roti dan keju olahan
5
Butil hidroksianisol (BHA)
Menghambat oksidasi pada lemak dan minyak
6
Butil hidroksitoluen (BHT)
Menghambat oksidasi pada lemak, minyak, margarin dan mentega.

Pengawetan bahan makanan atau minuman dengan memberikan zat aditif seperti pada tabel diatas merupakan cara pengawetan secara kimia. Cara lain mengawetkan makanan adalah dengan cara pengasinan atau pemanisan. Misalnya ikan asin, manisan buah atau daging panggang dapat awet secara alami. Metode pengawetan lain adalah dengan cara fisik misalnya dengan pemanasan, pendinginan, pembekuan, pengasapan, pengeringan dan penyinaran.

4.      Penyedap.
Penyedap makanan adalah bahan tambahan makanan yang digunakan untuk meningkatkan cita rasa makanan. Adapun bahan penyedap alami yang umum digunakan adalah garam, bawang putih, bawang merah, cengkeh, pala, merica, cabai, laos, kunyit, ketumbar, sereh dan kayu manis. Pada makanan berkuah, kaldu dari daging dan tulang pada umumnya digunakan sebagai penyedap.
Selain penyedap alami, juga terdapat penyedap buatan. Penyedap buatan yang umum digunakan pada makanan adalah vetsin yang mengandung senyawa monosodium glutamate (MSG) atau mononatrium glutamate (MNG). Senyawa ini dibuat dari fermentasi tetes tebu dengan bantuan bakteri Micrococcus glutamicus. Banyak ahli kesehatan berpendapat bahwa bahwa penggunaan MSG yang berlebihan dapat menimbulkan penyakit yang dikenal dengan nama Sindrom Restoran Cina (Chinese Restaurant Syndrome) dengan gejala pusing, mulut terasa kering, lelah, mual atau sesak napas. Dosis maksimal penggunaan MSG yang ditetapkan oleh WHO adalah 120 mg / kg berat badan. Misalnya, berat badanmu 40 kg, maka jumlah MSG maksimal yang dapat dikonsumsi sebesar 480 mg (0,48 g)

5.      Pemberi Aroma.
Pemberi aroma adalah zat yang memberikan aroma tertentu pada makanan atau minuman. Penambahan zat pemberi aroma dapat menyebabkan makanan atau minuman memiliki daya tarik tersendiri untuk dinikmati. Zat pemberi aroma dapat berasal dari bahan segar atau ekstrak dari bahan alami, diantaranya adalah ekstrak buah nanas, ekstrak buah anggur, minyak atsiri dan vanili. Beberapa kue menggunakan murbei sebagai pemberi aroma.
Pemberi aroma yang merupakan senyawa sintetis atau disebut dengan essen, misalnya amil kaproat (aroma apel), amil asetat (aroma pisang ambon), etil butirat (aroma nanas), vanillin (aroma vanili) dan metil antranilat (aroma buah anggur) disebut pemberi aroma sintetis.

6.      Pengental.
Pengental adalah bahan tambahan yang digunakan untuk menstabilkan, memekatkan atau mengentalkan makanan yang dicampurkan dengan air, sehingga membentuk kekentalan tertentu. Bahan pengental alami misalnya pati, gelatin, gum, agar – agar dan alginate. agar kuah dari capcai kental biasanya dalam memasak capcai diberikan larutan pati. selain pada capcai, pengental biasa ditambahkan pada pembuatan permen karet yang umumnya menggunakan pengental gum.

7.      Pengemulsi.
pengemulsi adalah bahan tambahan yang dapat mempertahankan penyebaran (dispersi) lemak dalam air dan sebaliknya. Minyak dan air tidak saling bercampur, namun bila ditambahkan sabun, kemudian diaduk keduanya dapat dicampur. sabun dalam contoh tersebut disebut sebagai zat pengemulsi. Contoh zat pengemulsi makanan adalah Lesitin yang terkandung dalam kuning telur maupun dalam kedelai. Lesitin banyak digunakan dalam pembuatan mayones dan mentega. Apabila tidak ditambahkan zat pengemulsi, lemak dan air pada mayones dan mentega akan terpisah.

Sumber: 
http://www.erwinedwar.com/2018/08/zat-aditif-dan-zat-adiktif-materi-ipa_24.html